Ke mana orang yang dulu aku kenal itu?

Peduli apa dengan riset, blogwalking, dan source-citing.
Aku ingin tulisan yang spontan, mentah, dan murni. Sebagaimana mestinya, sebagaimana dulunya.

Aku ingat kebiasaan menulis lebih banyak dari yang bisa dipikirkan. Akankah aku sampai bertanya ke mana perginya kebiasaan itu? Aku ingat tulisan-tulisan dinamis, filosofis, logis. Mungkinkah aku sampai kehilangan tulisan-tulisan itu? Aku ingat karya-karya kreatif dan menginspirasi. Terbesit di pikiranku ke mana larinya karya-karya itu? Aku ingat antusiasme untuk belajar dan tahu. Mengapa jauh di dalam aku khawatir akan pudarnya gairah itu?

I long for the man I used to be.

Aku punya kepribadianku sendiri dan aku yakinkan jati diri ini tidak akan berubah. Lantas mengapa semua kecemasan ini muncul? Manusia butuh ruang. Manusia butuh kesempatan untuk menjadi dirinya. Aku menginginkan hal yang sama. Aku khawatir karena aku adalah pendidik. Aku punya tanggung jawab moral untuk menjadikan mereka yang kudidik manusia yang pintar. Aku khawatir karena sebagai manusia intelektual, aku merasa tidak bertambah pintar, jika bukan bertambah bodoh. Tanggung jawabku ada pada masyarakat, pada diriku sendiri, dan pada Tuhan. Lagi, manusia butuh ruang dan kesempatan.

Jika Anda masih membaca dan sampai pada kalimat ini, aku ingatkan, tulisan ini bukan dibuat untuk mengeluh…! Blog bukan diary…! Aku tidak akan menulis ocehan di media publik dan berpura-pura tulisan itu tidak akan dibaca orang lain…! Sebaliknya, aku berharap tulisan ini dibaca. Aku ingin kembali menulis, kembali menginspirasi, kembali belajar.

Kenalilah kembali jati diri kita lalu pancarkan dalam keseharian! Munculkan karaktermu yang unik itu! Dan jangan sampai pada akhirnya kita bertanya, ke mana orang yang dulu kita kenal itu?