“Superman (It’s Not Easy)”

Yup, selain game, satu hal lagi yang turut membangun daya imajinasiku adalah komik dan superhero dan rambling kali ini mengenai salah satu lagu favoritku, yang menilik superhero dari sisi yang berbeda, dari soundtrack Smallville tahun 2001 oleh Five For Fighting; “Superman (It’s Not Easy)”. Timingnya juga gak mungkin bisa lebih pas, Superman Returns baru diputar beberapa hari dan masih hangat dibicarakan.

Dari sudut pandang perkembangan komik, aku merasa dilahirkan pada generasi yang tepat di mana aku bisa mengalami langsung masing-masing tren perkembangan komik superhero dalam umur yang “nyaman”. Menjadi familiar dengan Batman yang gelap dan antipati; menjadi “saksi” kematian Superman; derita Spider-Man; sekaligus masih ingat membaca komik superhero berisi cerita-cerita ringan penuh warna, di mana kekerasan paling besar adalah saat Pinguin menggantung terbalik Dynamic Duo di atas kolam penuh buaya. Cuma Tuhan yang tahu bagaimana “berdebarnya” jantungku di halaman itu. 😛

Cerita-cerita superhero saat ini lebih menyoroti psikologi sang pahlawan. “Mengapa” menjadi faktor yang lebih penting dari “apa”. Bukan “apa itu benar atau salah” tapi “mengapa itu benar dan mengapa itu salah”. Cerita mengenai jiwa para superhero adalah hal yang menarik karena dengan cara ini kita akhirnya melihat mereka sebagai seorang manusia.

Menjadi seorang superhero bisa jadi adalah hal yang keren. Terbang di antara awan dan menyelam bersama ikan-ikan; punya mata yang mampu menembus tembok sekaligus bisa mendengar bisikan dari jarak puluhan, mungkin ratusan meter; selalu menang adu panco dan terkenal di seluruh bumi. Selain itu, ada satu hal kecil. Gak terlalu berat sih; hanya menanggung beban untuk menyelamatkan dunia.

Uncle Ben bilang, “with great power comes great responsibility“. Itu harga yang harus dibayar untuk menjadi seorang superhero; hidup sesuai pengharapan banyak orang. Seorang superhero tidak boleh menyerah, tidak boleh sekalipun terlihat tidak heroik, tidak boleh salah, tidak boleh memikirkan diri sendiri, harus tanpa pamrih, harus bijaksana, harus selalu ada jika dibutuhkan dan harus bisa menyelamatkan semuanya. Seorang superhero harus sempurna.

Tapi superhero juga seorang manusia. Di balik jubahnya yang berkibar, di balik wajahnya yang tampan dan cantik, di balik kekuatannya; ada jiwa seorang manusia. Manusia yang juga berhak atas dirinya, kekhawatirannya dan mimpi-mimpinya. Apakah seorang superhero boleh protes? Hmm…

I can’t stand to fly, I’m not that naive
I’m just out to find the better part of me

I’m more than a bird, I’m more than a plane
I’m more than some pretty face beside a train
And it’s not easy to be me

I wish that I could cry, fall upon my knees
Find a way to lie about a home I’ll never see

It may sound absurd but don’t be naive
Even heroes have the right to bleed
I may be disturbed but won’t you concede
Even heroes have the right to dream
And it’s not easy to be me

Up, up, and away, away from me
But it’s alright, you can all sleep sound tonight
I’m not crazy or anything

I can’t stand to fly, I’m not that naive
Men weren’t meant to ride with clouds between their knees

I’m only a man in a silly red sheet
Digging for kryptonite on this one-way street
I’m only a man in a funny red sheet
Looking for special things inside of me

I’m only a man in a funny red sheet
I’m only a man looking for a dream
I’m only a man in a funny red sheet
And it’s not easy

It’s not easy to be me

Kita semua, dalam bentuk tertentu, adalah seorang superhero. Bagi diri kita maupun bagi orang lain. Seorang ibu bagi anaknya, seorang ayah bagi keluarganya, seorang sahabat bagi sahabat dekatnya, seorang pemimpin bagi pengikutnya, atau diri kita bagi perasaan dan emosi kita sendiri; adalah seorang superhero.

Kita harus pantang menyerah, harus bijak, harus ikhlas dan harus bisa menyelematkan semuanya. Kita harus bisa berkorban. Kita bisa melakukan semuanya, pasti. Hanya saja, kita juga manusia. Memang gak mudah…