Kepercayaan: Seberapa banyak yang bisa seseorang berikan?

The trust of the innocent is the liar’s most useful tool.
Stephen King

Dari mana kita tau siapa yang bisa kita percayai…? Ada orang yang kita kira telah kita kenal dengan baik selama beberapa tahun dan orang itu akhirnya menjerumuskan kita. Ada orang yang baru kita kenal selama beberapa menit tapi kita seolah yakin bisa mempercayakan hidup kita kepadanya. Apa pada akhirnya orang jenis kedua ini akan jadi seperti orang yang pertama…? Apa sih parameter yang menentukan berapa banyak kadar kepercayaan yang bisa kita berikan kepada seseorang…?

Sebelum ngelantur lebih jauh kita sisihkan dulu kepercayaan yang sifatnya “sentimentil”. Kita gak bicara soal pengkhianatan kekasih, perselingkuhan pasangan atau sejenisnya, setidaknya belum untuk saat ini. Ini juga bukan soal faith dengan Pencipta. Yang aku maksudkan di sini adalah jenis kepercayaan seperti dalam lingkaran keluarga, pertemanan dan orang-orang di sekitar kita. Kepercayaan yang “peduli”, yang menemani kita melewati masa-masa yang berat, yang bisa menyediakan dukungan emosional, memberikan bantuan yang nyata atau informasi yang benar saat kita butuhkan. Jenis kepercayaan yang membuat kita merasa dihargai dan dimiliki dan membuat kita merasa menjadi bagian dari sesuatu.

Semua orang pasti akan sampai pada satu waktu di mana ia menemui sebuah masalah dan harus mengandalkan bantuan orang lain. Orang lain ini bisa jadi orang yang sudah lama dikenal atau yang baru. Bisa juga jadi orang yang ia sukai dan juga yang tidak. Tapi satu yang pasti, orang itu ia percayai. Percaya dengan informasi yang orang itu berikan, dengan jalan yang ditunjuk, dengan solusi yang ditawarkan; intinya satu… percaya bahwa dengan bantuannya, kita terbantu.

Saat menjadi yang “dipercaya“, seseorang punya satu keuntungan; dia akan didengar dan kemungkinan besar sarannya akan diambil dan direalisasikan. Posisi kita sendiri berada di “bawah”, sebagai pihak yang “mencari arahan“. Kalo dari awal bisa kita selesaikan sendiri, kenapa juga dari awal kita butuh bantuannya…? Intinya kita berharap agar orang itu bisa menolong kita mengambil keputusan terbaik sebagai solusi untuk masalah kita. Di sini saat mencari seseorang untuk dipercaya dan besarnya kadar kepercayaan yang bisa kita serahkan jadi sedikit rumit. Kita lihat dua kategorinya.

Pertama, orang yang dengan tulus berniat membantu kita. Kita bisa banyak menemui orang-orang ini di “lingkaran dalam” hidup kita. Contohnya orang tua, itu yang pasti. Yang bisa kita andalkan saat mempercayai mereka adalah mereka menginginkan yang terbaik untuk diri kita. Petunjuk mereka bisa saja tampak salah tapi tidak untuk niatnya. Kita yang muda boleh merasa lebih pintar tapi mereka yang tua jauh lebih berpengalaman. Orang tua tidak egois, mereka tidak menghitung benefit untuk diri mereka, mereka setia. Sejak dilahirkan kita sudah mempercayakan hidup kita pada mereka dan sampai kapanpun kita tetap bisa melakukannya. Dalam lingkaran dalam ini juga ada saudara-saudara dan sahabat-sahabat terbaik kita. Mereka bisa dipercaya bukan karena lamanya waktu kita mengenal mereka tapi “quality time” yang kita lewati bersama dan sudah jamak, quality over quantity.

Hubungan antar individu dilihat dari kualitas hubungannya ada dua; jangka pendek dan jangka panjang. Kualitas hubungan jangka pendek naik dengan cepat, sesuai dengan intensitas pertemuan dan interaksi selama masing-masing sesi pertemuan tapi juga turun sama cepatnya. Kualitas hubungan jangka pendek harus dijaga setinggi mungkin untuk mencicil dibangunnya kualitas jangka panjang. Bar meteran kualitas jangka panjang sangat lambat terisi tapi juga sangat lambat berkurang. Kualitas jangka pendek antara dua orang bisa full untuk satu hari dan kalau mereka tidak berinteraksi, misalnya seminggu, tangkinya bisa kosong lagi. Kualitas jangka panjang yang terisi penuh akan tetap penuh walau dua orang tidak bertemu selama bertahun-tahun. You should know what I mean. Orang-orang kategori pertama ini adalah orang-orang yang bisa kita perayai. Seberapa banyak…? Sebanyak yang kita mau.

Orang-orang kategori kedua jelas adalah lawannya, orang-orang yang tidak berniat tulus membantu kita. Niat orang-orang jenis ini tidak akan diketahui setelah nanti. Mengenali orang dalam kategori ini gampang-gampang susah. Dasar yang paling mudah dicari adalah mengetahui watak orang ini lewat orang lain. Dasar lain adalah kualitas dan pengalaman hubungannya dengan kita sendiri. Kalau sesorang bisa mencuri untuk kita, ia juga bisa mencuri dari kita. Kita terpaksa mempercayainya karena ia lebih tau. Ia punya informasi yang kita butuhkan, resource yang kita perlukan, ia kenal dengan orang-orang yang tepat dan akses ke bagian-bagian yang cepat. Orang-orang kategori ini terpaksa kita percayai. Seberapa banyak…? Kita gak akan tau. Yang jelas pada akhirnya, niatnya pasti terbongkar. Kita bisa membohongi setiap orang satu waktu, kita bisa membohongi satu orang setiap waktu, tapi kita tidak bisa membohongi setiap orang setiap waktu. Kepercayaan yang kita berikan pada seseorang selalu sebanding dengan nilai orang itu. Kalau kita tidak yakin bisa mempercayai seseorang, itu mungkin berarti kita memang tidak mempercayainya.

Kepercayaan bukan untuk dipilih. Kepercayaan harus diciptakan.