Katalis kenangan

Ada kenangan yang berasal jauh dari belakang. Memiliki barang-barang yang berasal dari masa itu dapat melengkapi kepingan-kepingan kenangan yang mungkin rontok oleh waktu.

"Hanya" selembar halaman alamat 8 Agustus 1994

Akhir tahun, saat untuk bercermin. Menoleh satu tahun ke belakang, melihat apa yang sudah dicapai dan apa yang belum. Mengintrospeksi perkembangan diri. Menilai dampak keputusan-keputusan yang dibuat satu tahun yang lalu dan merencanakan keputusan-keputusan untuk dampak yang akan dirasakan satu tahun ke depan.

Akhir tahun, saat untuk mengenang. Selama satu tahun ke belakang, ada kenangan-kenangan pahit yang ibarat bekas luka yang sudah mengering, walau enak untuk digaruk, tetap meninggalkan bekas. Ada kenangan-kenangan manis yang ibarat saat setelah hujan, walau telah reda dan gerimis, tetap meninggalkan aroma wangi di udara yang sejuk (dan kadang-kadang pelangi yang indah).

Bicara mengenai kenangan, kenapa harus berhenti sampai tahun lalu? Bagaimana dengan kenangan dua tahun yang lalu? Lima tahun yang lalu? Dua belas?

Sepanjang hidup kita, pasti ada yang namanya peristiwa istimewa yang pantas dan layak diingat. Seberapa jelas kita mengingatnya? Seberapa dalam peristiwa itu terkubur di antara tumpukan peristiwa lain yang lebih baru? Salah satu cara untuk membantu kita mengenangnya adalah dengan melihat kembali barang yang berkaitan erat dengan peristiwa itu. Item yang menjadi “saksi” peristiwa. Barang-barang ini mungkin tampak sepele saat itu, tapi bila waktunya telah tiba, mereka menjadi pembuka bendungan emosi dan kenangan yang mungkin tidak pernah kita bayangkan.

Hal-hal kecil? Hal-hal kecil apa?

Beberapa orang mungkin berpikiran bahwa menyimpan barang-barang seperti itu tidak berguna. Mereka mengatakan bahwa mengumpulkan karcis konser penyanyi-penyanyi idola atau helaian-helaian dan tangkai mawar dari pacar… konyol, terlalu sentimentil, dan mungkin cengeng, dan banyak hal lain yang lebih berguna yang bisa dipakai untuk mengisi dompet dibanding sebuah origami hati dari seseorang yang spesial.

Pendapat tersebut bisa jadi ada benarnya. Kenangan tetap kenangan. Memori yang tersimpan tetap bisa dipanggil dan diingat kembali, tentu sesuai dengan nilai kenangan yang dibawanya, tanpa menggunakan barang-barang “bersejarah”. Hanya saja, ada yang namanya faktor waktu. Waktu adalah kekuatan besar yang tidak dapat dikendalikan siapapun. Ada kenangan yang berasal jauh dari belakang. Memiliki barang-barang yang berasal dari masa itu dapat melengkapi kepingan-kepingan kenangan yang mungkin rontok oleh waktu. Selain itu, barang-barang ini bisa berfungsi sebagai pengingat. Ia mengingatkan kita akan cita-cita kita, yang dapat membangunkan kita kembali dari rutinitas dan pada akhirnya, menyadarkan kita akan kemungkinan-kemungkinan yang tidak terbatas.

PS: Terima kasih untuk Pak Dedy yang sudah berbagi cerita dan meminjamkan buku alamat kenangannya.